ANEKA RAGAM MANUSIA SERTA EVOLUSI CIRI-CIRI FISIK DAN BIOLOGISNYA DENGAN PENDEKATAN ANTROPOLOGI

 ANEKA RAGAM MANUSIA SERTA EVOLUSI CIRI-CIRI FISIK DAN BIOLOGISNYA DENGAN PENDEKATAN ANTROPOLOGI


Nama : Restu Yudha Putra Berutu
NIM : 243300020010
Dosen Pengampu : Serepina Tiur Maida, S.Sos., M.Pd., M.I.Kom.
Fakultas Hukum Universitas MPU Tantular 



 Pendekatan antropologi menawarkan pemahaman holistik, menggabungkan aspek biologis, budaya, sosial, dan sejarah untuk mengurai kompleksitas keberagaman manusia.

Keanekaragaman Manusia: Sebuah Panorama Kompleks

Keanekaragaman manusia adalah sebuah realitas yang menakjubkan dan sekaligus kompleks. Jika kita mengamati populasi manusia di seluruh dunia, kita akan disuguhi spektrum variasi yang luas dalam berbagai aspek, mulai dari ciri-ciri fisik yang tampak seperti warna kulit, bentuk rambut, tinggi badan, hingga karakteristik biologis yang lebih mendalam seperti golongan darah, kerentanan terhadap penyakit, dan adaptasi fisiologis terhadap lingkungan yang berbeda.

Antropologi, sebagai studi tentang manusia dalam segala aspeknya, menempatkan keanekaragaman ini sebagai fokus sentral. Alih-alih melihat perbedaan sebagai sesuatu yang ganjil atau hierarkis, antropologi berusaha memahami mengapa dan bagaimana keanekaragaman ini muncul, serta apa implikasinya terhadap kehidupan sosial dan budaya manusia.

Evolusi Ciri-Ciri Fisik dan Biologis: Jejak Panjang Adaptasi
Untuk memahami akar keanekaragaman manusia, kita perlu menelusuri jejak panjang evolusi spesies kita, Homo sapiens. Evolusi biologis adalah proses perubahan genetik dalam populasi dari generasi ke generasi. Perubahan ini, yang didorong oleh mekanisme seperti seleksi alam, hanyutan genetik, dan aliran gen, telah membentuk ciri-ciri fisik dan biologis manusia yang kita lihat saat ini.

Berikut adalah beberapa contoh bagaimana evolusi telah berkontribusi terhadap keanekaragaman manusia:

 * Warna Kulit: Distribusi warna kulit di seluruh dunia sangat berkorelasi dengan tingkat radiasi ultraviolet (UV) matahari. Populasi yang hidup di daerah dengan paparan UV tinggi (dekat khatulistiwa) cenderung memiliki kulit yang lebih gelap karena melanin, pigmen yang melindungi dari kerusakan DNA akibat UV. Sebaliknya, populasi yang hidup di daerah dengan paparan UV rendah (jauh dari khatulistiwa) cenderung memiliki kulit yang lebih terang, yang memungkinkan penyerapan sinar matahari yang cukup untuk sintesis vitamin D.
  

 * Tinggi Badan dan Bentuk Tubuh: Variasi tinggi badan dan bentuk tubuh sering kali merupakan adaptasi terhadap iklim. Populasi yang hidup di iklim dingin cenderung memiliki tubuh yang lebih pendek dan gemuk, dengan rasio permukaan tubuh terhadap volume yang lebih kecil untuk meminimalkan kehilangan panas. Sementara itu, populasi di iklim panas cenderung memiliki tubuh yang lebih tinggi dan ramping, dengan rasio permukaan tubuh terhadap volume yang lebih besar untuk memfasilitasi pelepasan panas.

 
 * Adaptasi Terhadap Ketinggian: Populasi yang hidup di dataran tinggi, seperti di Andes atau Tibet, telah mengembangkan adaptasi fisiologis untuk mengatasi kadar oksigen yang rendah. Adaptasi ini meliputi kapasitas paru-paru yang lebih besar, konsentrasi hemoglobin yang lebih tinggi (pada beberapa populasi), dan efisiensi penggunaan oksigen yang lebih baik.

  

 * Toleransi Laktosa: Kemampuan untuk mencerna laktosa (gula dalam susu) setelah masa kanak-kanak, yang dikenal sebagai persistensi laktase, bervariasi di antara populasi manusia. Kondisi ini sangat umum di populasi yang memiliki sejarah panjang beternak hewan penghasil susu, seperti di Eropa Utara dan beberapa bagian Afrika.


  
 * Kerentanan Terhadap Penyakit: Distribusi geografis penyakit dan kerentanan genetik terhadap penyakit juga menunjukkan jejak evolusi. Contohnya, prevalensi anemia sel sabit lebih tinggi di daerah dengan malaria karena heterozigot (individu dengan satu salinan gen sel sabit) memiliki perlindungan terhadap malaria.


 
Pendekatan Antropologi: Lebih dari Sekadar Biologi
Penting untuk ditekankan bahwa antropologi tidak hanya melihat keanekaragaman manusia dari perspektif biologis semata. Pendekatan antropologi yang holistik juga mempertimbangkan peran penting budaya, lingkungan, dan sejarah dalam membentuk variasi manusia.

 * Budaya: Praktik budaya, seperti pola makan, sistem perkawinan, dan teknologi, dapat memengaruhi tekanan seleksi dan arah evolusi dalam suatu populasi. Misalnya, perkembangan pertanian susu telah menciptakan tekanan seleksi untuk persistensi laktase.
 * Lingkungan: Faktor lingkungan, selain iklim dan ketinggian, seperti ketersediaan sumber daya, jenis patogen, dan interaksi ekologis, juga memainkan peran penting dalam membentuk adaptasi biologis.
 * Sejarah: Peristiwa sejarah, seperti migrasi, perkawinan campuran antar kelompok, dan perubahan demografi, telah berkontribusi pada pola distribusi genetik dan fenotipik yang kita lihat saat ini.
Menghindari Rasisme dan Bias Etnosentris
Memahami keanekaragaman manusia melalui lensa evolusi dan antropologi sangat penting untuk menghindari pandangan rasis dan etnosentris. Gagasan bahwa ada "ras" manusia yang berbeda secara biologis dengan hierarki superioritas dan inferioritas telah dibantah secara ilmiah. Variasi genetik terbesar justru ditemukan di dalam kelompok populasi, bukan di antara kelompok populasi yang berbeda secara geografis.

Perbedaan fisik dan biologis yang kita amati adalah hasil dari adaptasi terhadap lingkungan yang berbeda dan sejarah populasi yang unik, bukan indikator superioritas atau inferioritas. Antropologi mengajarkan kita untuk menghargai dan memahami keanekaragaman manusia sebagai kekayaan dan bagian integral dari warisan spesies kita.


Kesimpulan
Keanekaragaman manusia adalah hasil dari interaksi kompleks antara evolusi biologis, lingkungan, budaya, dan sejarah. Studi antropologi memberikan kerangka kerja yang penting untuk memahami asal-usul dan makna variasi ini, serta untuk menolak pandangan yang diskriminatif dan merendahkan. Dengan memahami akar keanekaragaman kita, kita dapat membangun masyarakat yang lebih inklusif dan menghargai perbedaan sebagai kekuatan, bukan sebagai pemisah.


Sumber Tambahan:
 1. Lewontin, R. C. (1972). The apportionment of human diversity. Evolutionary Biology, 6, 381-398. (Artikel klasik yang menunjukkan bahwa sebagian besar variasi genetik manusia ada di dalam populasi).
 2. Marks, J. (2010). What it means to be 98% chimpanzee: Apes, people, and their genes. University of California Press. (Buku yang membahas genetika manusia dan kesalahpahaman tentang ras).
 3. ন্যাশনাল জিওগ্রাফিক জিনোগ্রাফিক প্রজেক্ট:** (National Geographic Genographic Project) - Meskipun ini adalah proyek publik, situs web dan publikasinya menyediakan informasi yang mudah diakses tentang migrasi manusia dan variasi genetik.

4. Jablonski, N. G., & Chaplin, G. (2010). Human skin pigmentation as an adaptation to UV radiation. Proceedings of the National Academy of Sciences, 107(suppl_2), 8962-8968.
5. Ruff, C. B. (2002). Variation in human body size and shape. Annual Review of Anthropology, 31, 211-232.
Beall, C. M. (2007). Human adaptation to altitude: genetic and cultural aspects. Comprehensive Physiology, 3(3), 1103-1132.
6. Bersaglieri, T., Sabeti, P. C., Patterson, N., Vanderploeg, T., Schaffner, S. F., Drake, J. A., ... & Paabo, S. (2004). Genetic signatures of strong recent positive selection at the lactase gene. The American Journal of Human Genetics, 74(6), 1111-1120.
7. Allison, A. C. (1954). Protection afforded by sickle-cell trait against subtertian malarial infection. British Medical Journal, 1(4857), 290-292.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HUBUNGAN ANTROPOLOGI DENGAN ILMU-ILMU LAINNNYA

SEJARAH PERKEMBANGAN ILMU ANTROPOLOGI

Faktor dan Proses Difusi, Akulturasi, Asimilasi, Pembauran, dan Inovasi